JAKARTA - Seorang mahasiswi doktoral, Rumeysa Ozturk (30), asal Turki ditangkap secara tiba-tiba di Somerville, Massachusetts, pada Selasa 25 Maret. Ozturk tengah menjalani studi di Amerika Serikat dilaporkan diculik pada saat hendak berbuka puasa.
Dia belajar di salah satu universitas terkemuka di AS. Dia menghadapi ancaman deportasi setelah dianggap pro terhadap Palestina.
“Ozturk ditahan karena diduga terlibat dalam aktivitas yang mendukung Hamas,” demikian pernyataan Juru bicara Departemen Keamanan Dalam Negeri AS, Tricia McLaughlin, dikutip Minggu 30 Maret.
Mahasiswi tersebut dikabarkan ditahan Imigrasi AS. Sumber dari Kementerian Keamanan Dalam Negeri AS mengungkapkan bahwa penyelidikan dimulai setelah aktivitas online yang mengindikasikan potensi dukungan terhadap Hamas.
Namun, hingga saat ini, tidak ada bukti konkret yang dapat membuktikan tuduhan tersebut. Beberapa pihak meminta agar pemerintah AS memastikan proses hukum yang adil dan transparan bagi mahasiswi tersebut.
BACA JUGA:
Kasus ini masih dalam proses investigasi, dan pemerintah AS menyatakan akan mematuhi aturan hukum internasional serta memastikan bahwa semua prosedur yang berlaku ditegakkan secara adil.
Namun, kasus ini terus menjadi sorotan publik, mengingat dampaknya pada kebebasan individu dan hubungan diplomatik antara AS dan Turki.